Kokeran: Langkah Kecil Menuju Pertanian Berkelanjutan

Kokeran: tabung semai dari daun pisang, sebagai media penyemaian benih

Di Desa Noinbila, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, para petani sedang kembali menemukan cara-cara sederhana namun berdampak besar untuk untuk mewujudkan pertanian yang lebih berkelanjutan. Bersama program PANGAN, sebuah inisiatif untuk memperkuat kedaulatan pangan dan pemenuhan gizi di Timor, mereka belajar bagaimana praktik-praktik tradisional dan bahan-bahan alami bisa menjadi alternatif efektif dibandingkan penggunaan bahan kimia dalam praktik pertanian. Karena pada akhirnya, tanpa petani, tidak akan ada penopang bagi ketahanan pangan, dan risiko krisis akan semakin besar.

Sesi belajar kali ini berfokus pada praktik pertanian berkelanjutan yang memanfaatkan bahan alami, menjaga tanah, serta memastikan pertanian tetap dapat berlangsung lintas generasi. Secara khusus, para petani mempelajari penggunaan kokeran, tabung semai dari daun pisang, sebagai media penyemaian benih cabai. Menyemai benih memang bukan hal baru bagi petani, tetapi kali ini berbeda: benih cabai dikeringkan menggunakan rumah pengering tenaga surya, salah satu teknologi eksperimental Kopernik yang dirancang untuk membantu mengatasi tantangan pascapanen di So'E, wilayah dengan iklim lembab.

Sesi diawali dengan penjelasan dari petani Albinus tentang cara membuat kokeran. Ia berbagi tentang alat dan bahan yang digunakan, proses pembuatannya, hingga berbagai tips praktis, mengapa benih cabai sebaiknya dikeluarkan menggunakan tusuk gigi, mengapa kokeran dibuka pada hari ketujuh, dan mengapa tanah diambil dari bawah pohon bambu. Setelah itu, peserta langsung mempraktikkan metode tersebut bersama-sama.

Salah satu kokeran yang dibuat oleh para petani

Benih cabai sendiri disiapkan dengan cara mengeringkan cabai utuh, baik varietas hibrida maupun lokal, di rumah pengering tanpa memisahkan biji dari daging buah. Setelah kering, biji cabai dikeluarkan untuk dijadikan benih, sementara kulit cabai kering dapat diolah menjadi bubuk cabai. Proses pengeringan biasanya memakan waktu dua minggu, meski menurut para Yunri bisa juga selesai dalam empat hari, tergantung cuaca.

Lalu, apa itu kokeran? Kokeran adalah alternatif ramah lingkungan untuk menggantikan polybag plastik. Ia dibuat dari daun pisang yang dipotong selebar 5–7 cm, digulung menjadi tabung, lalu direkatkan dengan tusuk gigi atau lidi bambu. Hasilnya mirip bungkus lemper, hanya saja lebih besar dan panjang. Berbeda dengan polybag plastik, kokeran tidak perlu dilepas saat dipindahkan ke tanah. Daun pisang akan terurai secara alami sekaligus menyuburkan tanah, menjadikan kokeran sebagai alat pertanian regeneratif.

Untuk media tanam, petani mencampurkan tanah subur dari bawah pohon bambu, pasir sungai untuk memperbaiki aerasi (menggantikan sekam), dan pupuk kandang. Perbandingannya satu ember tanah, satu ember pasir, dan satu ember pupuk kandang, semuanya diayak lalu dicampur. Kokeran disusun rapat di atas meja atau para-para, diisi campuran tanah, kemudian ditanami satu benih cabai di setiap tabung. Penyiraman dilakukan dengan botol yang tutupnya dilubangi kecil-kecil agar air menetes seperti hujan, sehingga tidak merusak daun pisang. Setelah itu, kokeran ditutup dengan daun pisang yang diberi pemberat kayu untuk melindungi dari hujan, dan dibuka pada hari ketujuh.

Mulai hari kedelapan, benih secara bertahap diperkenalkan pada sinar matahari. Antara hari ke-18 hingga ke-30, bibit harus segera dipindahkan ke bedeng sebelum akarnya menembus keluar dari kokeran. Jika terlambat, tanaman akan stres karena terjebak di ruang sempit. Kelebihan metode ini adalah kokeran bisa langsung ditanam tanpa harus dilepas. Daun pisang dan tusuk gigi akan terurai alami, sekaligus memberi nutrisi tambahan pada tanah.

Dengan menggunakan kokeran, para petani sedang mempraktikkan pertanian regeneratif, pertanian yang menekankan keberlanjutan, menghindari bahan berbahaya, dan memanfaatkan bahan alami yang mudah terurai. Langkah kecil ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti teknologi baru. Kadang, inovasi berarti kembali ke alam dan menghidupkan kembali praktik tradisional dengan cara yang melindungi mata pencaharian sekaligus bumi.